Now We Move Forward.

A message from Bali to the world in response to the 2002 Bali Bombing.






Dear Friends,

This is a message which I ghost wrote on behalf of Parum Samigita, the ‘Think Tank’ for the Banjars (Village Councils) of the Kuta, Legian and Seminyak areas of Bali. It comes from the heart of the Balinese people at ground zero in Kuta.
It is a message of love and brotherhood and expressed the message which they wished to send to the world.
The speech was delivered in English by Asana Viebeke L on the 25th October 2002 at a press conference for the Indonesian media.
Parum Samigita coordinated relief efforts for the Balinese and migrant Indonesian families who had been dispossessed by the bombing.

~Nick Burgoyne



Now We Move Forward!


We Balinese have an essential concept of balance. It’s the Tri Hita Karana; a concept of harmonious balance. The balance between God and humanity; Humanity with itself and Humanity with the environment. This places us all in a universe of common understanding.

It is not only nuclear bombs which have fallout. It is our job to minimize the fallout from these bombs for our people and our guests from around the world. Who did this? It’s not such an important question for us to discuss. Why this happened – maybe this is more worthy of thought. What can we do to create beauty from this tragedy and come to an understanding where nobody feels the need to make such a statement again? This is important.

This is the basis from which we can embrace everyone as a brother; everyone as a sister.

It is a period of uncertainty. It is a period of change. It is also an opportunity for us to move together into a better future. A future where we embrace all of humanity in the knowledge that we all look and smell the same when we are burnt. Victims of this tragedy are from all over the world.

The past is not significant. It is the future which is important. This is the time to bring our values, our empathy, to society and the world at large. To care. To Love.

The modern world brings to many of us the ability to rise above the core need for survival. Most people in the developed world no longer need to struggle to simply stay alive. It is our duty to strive to improve our quality of life.

We want to return to our lives. Please help us realize this wish.

Why seek retribution from people who are acting as they see fit? These people are misguided from our point of view. Obviously, from theirs, they feel justified and angry enough to make such a brutal statement.

We would like to send a message to the world - Embrace this misunderstanding between our brothers and lets seek a peaceful answer to the problems which bring us to such tragedy.

We embrace all the beliefs, hopes and dreams of all the people in the world with Love.

Do not bring malice to our world. What has happened has happened. Stop talking about the theories of who did this and why. It does not serve the spirit of our people. Words of hate will not rebuild our shops and houses. They will not heal damaged skin. They will not bring back our dead.

Help us to create beauty out of this tragedy.

Our community is bruised and hurting. Our spirit can never be broken.

Everybody in the world is of one principle brotherhood.

Paras Paros Sarpanaye Sabayantaka
Tat Wam Asi You are me and I am you.
Anda adalah saya dan saya adalah anda.

We have a concept in Bali, Ruwa Bhineda, a balance between good and bad. Without bad there can be no good. The Bad is the ‘sibling’ of the Good. Embrace this concept and we can move forward into a better world.

You love your husband and wife but sometimes you fight. Fear arises and shows its opposition to love. This is normal. This is a natural, essential part of life.

There is Sekala / Nisikala - the underworld forever in darkness merging with our world in the light.

These are the concepts by which we, as Balinese, live our lives. Please, we beg you, talk only of the good which can come of this. Talk of how we can reconcile our ‘apparent’ differences. Talk of how we can bring empathy and love into everybody’s lives.

The overwhelming scenes of love and compassion at Sanglah Hospital show us the way forward into the future. If we hate our brothers and sisters we are lost in Kali Yuga.

If we can Love all of our brothers and sisters, we have already begun to move into Kertha Yuga. We have already won ‘The War Against Terrorism’.

Thank you for all your compassion and love


More About the 2002 Bali Bombing



Sekarang Kita Maju!


Kami di Bali mempunyai konsep penting mengenai keseimbangan,yaitu Tri Hita Karana, konsep keseimbangan yang selaras. Keseimbangan antara Tuhan dan umat manusia; umat manusia dengan sesama umat manusia, dan umat manusiaan dengan lingkungan. Ini meletakkan kita semua dalam alam pengertian yang universil.

Bukan hanya bom nuklir yang dapat berjatuhan. Adalah tugas kita untuk meminimalisir kejatuhan ini bagi rakyat kita dan bagi tamu-tamu kita dari mancanegara. Siapa yang melakukannya? Pertanyaan ini tidak terlalu penting untuk kita bicarakan. Kenapa ini terjadi – mungkin ini lebih pantas dipikirkan. Apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan keindahan dari tragedi ini, agar dapat mengerti bahwa tidak ada seorang pun merasa perlu untuk membuat pernyataan seperti itu lagi? Ini penting. Ini adalah dasar di mana kita dapat saling merangkul sebagai saudara!

Ini adalah masa ketidakpastian. Ini adalah masa perubahan. Ini juga merupakan kesempatan bagi kita untuk bergerak bersama untuk

menyambut masa depan yang lebih baik. Masa depan di mana kita merangkul umat manusia dalam pengetahuan bahwa kita semua tampak dan mempunyai bau serupa dalam keadaan terbakar. Korban tragedi ini berasal dari seluruh dunia.

Masa lalu tidak penting. Masa depanlah yang penting! Ini adalah saat untuk memperlihatkan nilai-nilai dan empati kita kepada masyarakat dan seluruh dunia. Untuk peduli, untuk mencintai.

Banyak dari kita telah mampu menggunakan kehidupan modern untuk berkembang melebihi kebutuhan untuk sekadar bertahan hidup. Kebanyakan orang di dunia yang telah berkembang tidak lagi perlu berjuang untuk sekadar hidup. Tugas kita adalah untuk berusaha memperbaiki kualitas hidup kita!

Kami ingin kembali ke kehidupan kami! Bantulah kami untuk mencapai keinginan kami ini.

Kenapa cari ganti rugi dari orang-orang yang bertindak semaunya? Menurut pandangan kami, orang-orang ini telah sesat! Tentu, dari sudut pandang mereka, mereka merasa mempunyai hak dan rasa amarah yang cukup untuk membuat pernyataan yang sedemikian brutalnya.

Kami ingin menyampaikan pesan kepada dunia – rangkullah kesalahpahaman antara saudara-saudara kami, dan mari kita cari jawaban damai untuk masalah-masalah yang telah mengakibatkan tragedi.

Kami merangkul semua kepercayaan, harapan dan mimpi dari orang-orang di seluruh dunia dengan rasa cinta.

Janganlah membawa dendam ke dalam dunia kami! Yang terjadi biarlah terjadi. Berhentilah berteori mengenai siapa yang melakukannya dan mengapa dilakukannya. Hal itu tidak akan bermanfaat bagi jiwa kami. Kata-kata kebencian tidak akan membangun kembali toko dan rumah-rumah kami. Kata-kata kebencian tidak akan menyembuhkan kulit yang telah rusak. Kata-kata kebencian tidak akan mengembalikan mereka yang telah meninggal.

Bantulah kami menciptakan keindahan dari tragedi ini

Komunitas kita memar dan sedang sakit; namun jiwa kami tidak akan pernah rusak.

Setiap orang di dunia berprinsip satu: persaudaraan.
Paras Paros Sarpanaye Sabayantaka
Tat Wam Asi You are me and I am you.
Anda adalah saya dan saya adalah anda.

Kami mempunyai konsep di Bali: Ruwa Bhineda, keseimbangan antara yang baik dan yang jahat. Tanpa kejahatan tidak mungkin ada kebaikan. Yang Jahat adalah saudara kandung yang Baik. Rangkullah konsep ini dan kita akan maju menuju dunia yang lebih baik.

Anda mencintai pasangan anda, tapi kadang-kadang ada perselisihan faham. Ketakutan timbul dan memperlihatkan pertentangan akan cinta. Ini normal. Ini alamiah, dan merupakan bagian penting dari kehidupan.

Ada sekala/Nisikala – dunia penjahat selamanya dalam kegelapan menyatu dengan dunia kita dalam terang

Ini merupakan konsep yang merupakan gaya hidup kami orang Bali. Kami mohon, bicaralah hanya mengenai hal-hal yang baik, yang dapat timbul dari kejadian ini. Bicaralah bagaimana kita dapat mendamaikan ketidaksesuaian kita yang nyata. Bicaralah mengenai bagaimana kita dapat menimbulkan empati dan cinta dalam kehidupan setiap insan.

Pemandangan cinta kasih yang meluap-luap di Rumah Sakit Sanglah menunjuk kami ke masa depan. Bila kita membenci saudara-saudara kami, maka kami akan hilang di Kali Yuga.

Bila kita dapat mencintai saudara-saudara kita, kita telah mulai menuju ke Kertha Yuga. Kita telah menang “Perang melawan Terorisme”.

Terima kasih untuk kasih sayang yang telah anda berikan.


More About the 2002 Bali Bombing