Announcing Opening Night Selection
(Adam Elliot – Clayography – 80 min – Australia)
TUESDAY, 20 Oct, 7:30 pm
MARY AND MAX Clayography feature film from writer/director Adam Elliot and the creators of the Academy Award® winning short animation “Harvie Krumpet”, it is a simple tale of pen-friendship between two very different people, Mary Dinkle, a chubby lonely eight year old girl living in the suburb of Melbourne, and Max Horovitz, a 44 year old, severely obese, Jewish man with Asperger’s Syndrome living in the chaos of New York City.

Spanning twenty years and two continents, Mary and Max’s friendship survives much more than the average diet of life’s ups and downs. Like “Harvie Krumpet”, ‘Mary and Max” is innocent but not naive, as it takes on a journey that explores friendship, autism, taxidermy, psychiatry, alcoholism, where babies come from, obesity, kleptomania, sexual difference, trust, copulating dogs, religious difference, agoraphobia and much, much more.     www.maryandmax.com
MARY DAN MAX adalah sebuah fitur claymation film dari pemenang Academy Award untuk kategori film animasi pendek, HARVIE KRUMPET. Cerita sederhana tentang dua sahabat pena dengan latar belakang yang berbeda, yaitu Mary Dinkle, seorang anak gadis gemuk berumur delapan tahun, tinggal di pinggir kota Melbourne, dan Max Horovitz, seorang pria berumur 44 tahun, pengidap obesitas, seorang yahudi dengan sindrom Asperger yang tinggal di tengah keramaian kota New York. Berjalan selama dua puluh tahun dan melewati dua benua, persahabatan Mary dan Max telah melewati lebih dari sekedar persoalan romantika kehidupan. Seperti Harvie Krumpet, Mary dan Max polos, tapi tidak bodoh, ketika mereka menjalani persahabatan, autisme, taksidermi, psikiatri, alkoholisme, di mana bayi berasal, obesitas, kleptomani, perbedaan jenis kelamin, kepercayaan, perbedaan agama, agoraphobia dan banyak banyak lagi.
(Quentin Tarantino – 153 min - USA)
FRIDAY, 23 Oct, 9:00 pm
Adult audience only.
In Nazi-occupied France during World War II, a group of Jewish-American soldiers known to their enemy as "The Basterds" are chosen specifically to spread fear and engage in targeted acts of retribution throughout the Third Reich by scalping and brutally killing Nazis. The Basterds soon cross paths with a young French-Jewish woman who witnessed the execution of her family at the hand of a Nazi Colonel. Narrowly escaping, she flees to Paris where she forged a new identity as the owner and operator of a cinema, which is targeted by Nazi soldiers. Set to carry out a revenge plan of her own, fate intervenes when “The Basterds" join German actress and undercover agent on a mission to take down the leaders of The Third Reich. “Inglourious Basterds” was accepted into the main selection at the 62nd Cannes Film Festival in competition for the prestigious Palme d'Or and was the only U.S. film to win an award at Cannes, earning a Best Actor award for Christoph Waltz.
Pada tahun pertama kepenguasaan Jerman terhadap Perancis, Shosanna Dreyfus, menyaksikan eksekusi keluarganya di tangan Kolonel Nazi Hans Landa. Shossana berhasil lolos dan melarikan diri ke Paris dimana dia menggunakan identitas baru sebagai pemilik dan operator bioskop. Di suatu tempat di Eropa, Letnan Aldo Raine memimpin sebuah organisasi tentara Yahudi Amerika untuk melakukan aksi retribusi yang cepat dan mengejutkan. Mereka akhirnya dikenal sebagai “The Basterds”, Kelompok Raine lalu bergabung dengan aktris berkebangsaan Jerman sekaligus agen rahasia bernama Bridget Von Hammersmark, yang sedang dalam misi menjatuhkan pemimpin Third Reich. Nasib berkumpul di bawah bioskop marquis, dimana Shosanna bersikeras menjalankan rencana balas dendam sendiri.
Tokyo Sonata
(Kiyoshi Kurosawa – 120 min- Japan)
WEDNESDAY, 21 Oct, 7:00 pm
A story of an ordinary Japanese family of four. From the exterior, the family is seemingly normal. The quiet unravelling of the family begins when the father loses his job unexpectedly. Facing completely unfamiliar circumstances, he decides not to tell his family and begins his lonely sojourn into the world of the secretly unemployed.

His lies and torment go unnoticed by his son, who becomes increasingly despondent and alienated from his family, and his wife, who can no longer summon the will to keep her family together. When the father vehemently refuses to allow his son to play the piano, he nevertheless finds a way to take clandestine piano lessons by using his school lunch money for lesson fees.

What began as lies created as a means to survive in a society increasingly unable to communicate, gradually leads the family into unforeseeable destruction.    www.tokyosonatamovie.com
Sebuah cerita tentang keluarga jepang beranggotakan empat orang seperti umumnya. Sang ayah, Ryuhei Sasaki, istrinya Megumi, si sulung Takashi dan si bungsu, Kenji. Terlihat dari luar keluarga ini terlihat normal, tidak terpengaruh akan masalah kecil yang ada. Ketenangan itu mulai terganggu ketika Ryuhei secara tak terduga kehilangan pekerjaannya. Menghadapi keadaan yang sama sekali tidak familiar, ia memutuskan untuk tidak memberitahukan keluarganya, dan memulai perjalanan pengangguran rahasianya. Kebohongan dan kesengsaraannya tidak diketahui oleh Takashi, yang merasa semakin terasing dari keluarganya, dan Megumi, yang merasa tidak bisa lagi menyatukan keluarganya. Sementara Ryuhei bersikeras tidak memperbolehkan Kenji bermain piano, ia menemukan jalan untuk membayar les pianonya menggunakan uang saku bulanannya. Apa yang dimulai dari kebohongan demi gengsi di masyarakat, pada akhirnya hanya akan mengantarkan keluarga tersebut ke dalam kehancuran.
Banlieue 13 - Ultimatum
(Patrick Alessandrin – 101 min – FRANCE)
FRIDAY, 23 Oct, 2:30 pm
Paris, 2010. An isolation wall surrounds the ghetto cities. Without effective law enforcement, within these walls, gang rule is absolute. Damien is a member of an elite police squadron, a special unit highly trained in martial arts and the precise physical skills necessary to navigate the treacherous urban landscape of Paris’ future.

He is now tasked with the most vital and dangerous mission of his career: to retrieve a loose nuke stolen by the most powerful gang of District B13. Leito, vigilante criminal whose only goal is to save his sister from the clutches of the same gang, knows District B13 like the back of his hand. Assigned to infiltrate the sector to defuse the bomb, Damien must convince Leito to join his cause. Yet everything is not quite as it seems.
Paris, tahun 2010. Sebuah tembok besar mengisolasikan sebuah kota ghetto. Tanpa sistem hukum yang efektif, didalam tembok ini, peraturan geng bersifat absolut. Damien adalah seorang anggota regu polisi elit, sebuah unit spesial yang sangat terlatih dalam ilmu bela diri dan mempunyai ketrampilan fisik yang tepat untuk mengendalikan kehidupan kota yang berbahaya demi masa depan Paris. Dia sekarang ditugaskan dengan misi yang paling vital dan berbahaya disepanjang karirnya: untuk mengambil kembali senjata nuklir yang telah dicuri oleh gang paling berkuasa di distrik B13. Leïto, seorang kriminal yang suka main hakim sendiri yang tujuannya hanya ingin menyelamatkan saudara perempuannya dari cengkraman geng yang sama, mengenal distrik B13 seperti sisi lain tangannya sendiri. Ditugaskan untuk menyisir sektor tersebut untuk menjinakkan bom, Damien harus meyakinkan Leïto untuk bergabung dengan misinya. Sementara semuanya tidak seperti yang terlihat di permukaan.
(Riri Riza – 40 min - Indonesia)
FRIDAY, 23 Oct, 7:00 pm
Film adaptation of the classic Mahabharata written by Laila S. Chudori, the story tells of the dynastic struggle for the Hastinapura throne when one fateful night Yudistira gambles away all his wealth, including Drupadi, the daughter of King Drupada of Panchala, born from fire, she was the most beautiful and desirable woman of that time.

Film adaptasi dari kisah klasik Mahabrata yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Film ini menggambarkan kisah Drupadi, istri dari lima bersaudara yang dikenal sebagai Pandawa. Di suatu malam yang penting, kelima Pandawa diundang ke permainan dadu untuk bermain melawan Kurawa bersaudara. Sakuni, paman para Kurawa telah mengatur permainan itu agar para Kurawa bermain melawan Yudhistira, saudara tertua para Pandawa. Yudhistira kehilangan semua kekayaannya dan kerajaannya. Dia mempertaruhkan saudara-saudaranya, dirinya sendiri dan akhirnya Drupadi, sebagai pelayan bagi para Kurawa. Demi memperjuangkan kebebasannya, Drupadi terus menerus mempertanyakan hak Yudhistira, untuk mempertaruhkan dirinya, ketika dirinya sendiri telah kehilangan kebebasannya. Film ini tak hanya bercerita tentang Drupadi, tapi juga cerita tentang seoang wanita memperjuangkan sebuah dunia yang didukung keadilan dan persamaan hak.
(Priyadarshan – 112 min – India)
THURSDAY, 22 Oct, 9:00 pm
The film is set in 1948 in the thick of Kanchi’s silk weaving industry and tells the story of a common man caught in a conflict between one’s adopted ideals and individual dreams. Vengadam is the most gifted silk weaver but too poor to afford the saris he weaves. Upon the birth of his daughter he whispers a promise that he will marry her off with a silk sari, which is met with scepticism by villagers and even his wife. Risking everything, he steals individual vivid silk threads from his workplace at the temple and then every night secretly and patiently weaves his daughter’s sari. As his daughter’s wedding day approaches, a communist activist initiates a strike against the mill owner preventing Vengadam from completing the sari and from keeping his promise. The story is told in flashback as Vengadam is being taken home on parole from jail. This visually stunning and moving Tamil-language narrative film tells a story that crosses all borders and barriers.

Film ini berawal dari pria tua bernama Vengadam dibebaskan dari penjara pada tahun 1948. Dia hanya dikawal selama dua hari (tidak dijelaskan kenapa) kembali ke kampung halamannya Kanchipuram, atau yang lebih dikenal Canjeevaram setelah pendudukan bangsa Britania. Vengadam dipindahkan dibawah pengawasan dua orang polisi didalam bus dari Coimbatore ke Kanchipuram. Dalam perjalanan tersebut, Vengadam teringat akan masa lalu dikarenakan secara simbolis beberapa peristiwa yang terjadi di dalam bus tersebut mengingingatkannya kembali akan masa lalunya.
(Albert Falzon – 87 min – Australia)
WEDNESDAY, 21 Oct, 5:00 pm
The classic 1971 surf film portrays surfers living in spiritual harmony with nature, making their own boards (and homes) as they travel in search of the perfect wave across Australia’s north-east coast, Bali and Hawaii. The film features the first ever footage of surfing at Uluwatu and opened the door to surfers and the mass exodus of tourists from Australia wanting to experience the beautiful island and its culture.

“In reflection I'm not sure whether that was good or bad.......in a way I suppose it was inevitable and we all seek beauty and certainly Bali offered that and still does” - Albert Falzon.

Sebuah film surfing klasik tahun 1971. Film ini menggambarkan kehidupan harmoni spiritual para sufer dengan alam, membuat board mereka sendiri (dan juga rumah) dalam perjalanan mereka mencari ombak yg sempurna sepanjang teluk selatan dan timur Australia, Bali dan Hawaii. Film ini menampilkan footage surfing pertama di Uluwatu dan membuka pintu bagi para surfer dan mendatangkan banyak turis dari Australia, yang ingin merasakan keindahan dan kebudayaan pulau Bali.

“Secara penggambaran saya tidak yakin apakah bagus atau tidak…dengan kata lain, bisa dibilang bahwa itu tidak terelakkan dan kita semua mencari keindahan dan Bali memang dan masih menyuguhkan itu” – Albert Falzon

(Peter Rodger – 93 min – UK)
WEDNESDAY, 21 Oct, 9:00 pm
A journey of epic proportions, shot over three years across 23 different countries, “Oh My God” asks people from all walks of life, from celebrities, to the religious, to atheists and the common Man – the question – “What is God?” The film examines worldwide perceptions of religion and its effects on the world to see what this entity that goes by the name of God means to individuals. Celebrities featured include; Hugh Jackman, Ringo Starr, David Copperfield, Seal, Sir Bob Geldof, Baz Luhrmann, Her Royal Highness Princess Michael of Kent and Jack Thompson, among others. The results of this journey are sometimes predictable, and sometimes surprising.


Sebuah perjalanan epik, pengambilan gambar dilakukan lebih dari dua setengah tahun di dua puluh tiga negara,”Oh My God” mempertanyakan berbagai macam orang, dari selebritis, ke pakar agama, dari atheis ke orang dengan penuh keyakinan – pertanyaannya adalah – “Apakah Tuhan Itu?”. Film ini mengulik pandangan dunia tentang agama dan efek bagaimana dunia melihat Tuhan dan apa artinya bagi masing-masing individu. Selebriti yang terlibat; Hugh Jackman, Ringo Starr, David Copperfield, Seal, Sir Bob Geldof, Baz Luhrmann, dan Jack Thompson. Hasil dari perjalanan ini terkadang dapat diduga dan kadang mengejutkan.

(Paolo Sorrentino – 100 min – Italy)
FRIDAY, 23 Oct, 5:00 pm

The story of Italian Prime Minister Giulio Andreotti, and the man nicknamed "Il Divo" (or "Beelzebub" to some) who entered government in 1947 and still sits as a life senator in Italy, but the last few decades have seen his power diminish in a wave of scandal and rumors of serious wrongdoing. Starting in the 1990s, Andreotti was implicated in a series of crimes, including connections with the Mafia that brought him before Parliament. ‘Il Divo’ is about the controversial career of a man whose entire life was shadowed by rumors of violence, corruption, greed, and general awfulness, a man whose deeds were spoken about in hushed tones. Winner of the Prix du Jury at the Cannes Film Festival in 2008. Screening sponsored by Italian Institute of Culture, Jakarta.

Sebuah cerita tentang Perdana Menteri Italia Giulio Andreotti,bernama panggilan “Il Divo” (atau “Beelzebub” untuk beberapa orang) yang memasuki pemerintahan pada tahun 1947 dan masih menjalani kehidupan sebagai senator di Itali, akan tetapi untuk beberapa decade terakhir, pengaruhnya melemah seiring rumor skandal dan kesalahan serius. Dimulai dari tahun 1990-an, Andreotti terlibat dalam sejumlah peristiwa kriminal, termasuk hubungannya dengan para Mafia sebelum memasuki Parlemen. ‘Il Divo’ bercerita tentang seorang pria karir yang controversial yang sepenjang hidupnya dibayangi rumor kekerasan, korupsi, keserakahan, dan keburukan general, seorang pria yang perbuatannya di bicarakan dengan suara lirih. Pemenang dari Prix du Jury di Cannes Film Festival pada tahun 2008. Screening film ini disponsori oleh Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta
(LIEW SENG TAT –97 min – Malaysia)
Children Ages: 10 years +
SATURDAY, 24 Oct, 10:00 am
Multi award winning Malaysian movie, written and directed by Liew Seng Tat. The film tells the story of two brothers, Li Ahh and Li Ohm growing up motherless. They are neglected by their father Sui, a workaholic who spends the bulk of his time mending broken mannequins in his workshop. While their father shuts himself out from the world, the two brothers roam the streets, getting themselves into fights and trouble in school but all they want is to love and to be loved.
Film dari Negara Jiran Malaysia yang telah memenangkan berbagai penghargaan. Ditulis dan disutradarai oleh Liew Seng Tat. Film ini menceritakan tentang dua kakak beradik. Li Ahh dan Li Ohm besar tanpa ibu. Mereka ditelantarkan oleh ayah mereka, Sui, seorang gila kerja yang menghabiskan waktunya memperbaiki manekin rusak di tokonya. Sementara ia menutup dirinya dari dunia luar, kedua anaknya berkeliaran di jalanan, terlibat perkelahian dan membuat masalah di sekolah tapi padahal yang mereka inginkan hanyalah mencintai dan dicintai.
(PHILIP MITCHELL –80 min Indonesia)
Children Ages: 4 years +
SUNDAY, 25 Oct, 10:00 am
The first Indonesian 3D animation movie about siblings trying to protect their home from a cunning landlord. The film is an adaptation from the novel, “Sing to the Dawn” by Minfong Ho. Meraih Mimpi gives us strength and hope and demonstrates the importance of tolerance and a fighting spirit in fulfilling our dreams. Set in the countryside and jungle of Batam Island which is inhabited by various types of Indonesian animals and makes an amazing visual backdrop.
Film animasi 3D pertama di Indonesia. Sebuah film adaptasi dari penulis novel Singapore Minfong Ho, berjudul “Sing To The Dawn”, bercerita tentang kakak beradik mencoba melindungi rumah mereka dari dominasi tuan tanah. Film Meraih Mimpi memberikan inspirasi kekuatan dan harapan dan memaparkan pentingnya toleransi dan semangat perjuangan dalam mewujudkan impian kita. Dengan seting di perkampungan dan hutan Pulau Batam yang juga dihuni oleh berbagai macam spesies binatang khas Indonesia, membuat tampilan visual yang luar biasa.


(Matt Tyrnauer - 97 min - USA)
THURSDAY, 22 Oct, 7:00 pm
Documentary traces the life of legendary fashion designer Valentino Garavani in the wake of his exit in 2008 from the company he founded more than 45 years ago. The film is an intimate, engaging and very funny fly-on-the-wall exploration of the singular world of one of Italy's richest and most famous men. The film documents the colourful and dramatic closing act of Valentino.

Film dokumenter tentang kehidupan seorang legenda designer fashion Valentino Garavani pada masa pensiunnya di tahun 2008 dari perusahaan yang ia dirikan lebih dari 45 tahun yang lalu. Ini adalah film tentang pengeksploran yang intim, menjanjikan dan menghibur kehidupan singular dari salah satu orang terkaya dan paling terkenal di Italia. Film ini mendokumentasikan closing act dari seorang Valentino yang penuh warna dan dramatis.
(Damani Baker and Alex Vlack – 82 min - USA)  
THURSDAY, 22 Oct, 5:00 pm
Music Documentary on the life of Bill Withers, the unlikely and reclusive super soul singer from the late 60s and early 70s (“Ain’t No Sunshine,” “Lean on Me,” “Lovely Day,” and “Just the Two of Us”). An enigmatic character, the film chronicles how a small town boy from West Virginia, USA could take the music world by storm and then, just as easily, mysteriously disappear into near obscurity.

Film Dokumenter musik tentang kehidupan seorang Bill Withers, penyanyi super soul yang pemalu dan penyendiri dari akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an (“Ain’t No Sunshine”, “Lean on Me”, “Lovely Day”, dan “Just the Two of Us”). Seorang karakter yang menimbulkan banyak tanda tanya, film ini menceritakan betapa seorang bocah dari kota kecil di Virginia Barat, Amerika mampu mempesonakan dunia musik dan lalu, dengan mudahnya menghilang secara misterius.
(Juan Laguna – 76 min – Spain / Senegal)
WEDNESDAY, 21 Oct, 2:30 pm
The story of two dreams. Marem’s dream, a 14 year old dancer from Senegal who wants to migrate to Europe, and Sonia’s dream, of a Spanish dancer attracted by the magic of Africa. Both are linked by Pap Ndiaye, Marem’s father and at the same time Sonia’s husband. Africa did not turn out to meet Sonia’s dream, nor was Europe what Marem expected. ‘Princess of Africa’ is a love story, full of music and dance, where nothing is what it seems and women are the main characters. 

Bercerita tentang dua mimpi, mimpi Marem, seorang penari berumur 14 tahun dari Senegal, berimigrasi ke Eropa, dan mimpi Sonia, seorang penari Spanyol, tertarik akan keajaiban benua Afrika. Keduanya dihubungkan lewat Pap Ndiaye, ayah Marem yang juga suami Sonia. Afrika ternyata tidak bisa mewujudkan mimpi Sonia (Pap Ndiaye mempunyai dua istri lagi), begitu pula Eropa yang tidak seperti yang Marem bayangkan (tidak ada anak kecil berkeliaran di jalan dan banyak kemiskinan). Princess of Africa adalah sebuah cerita cinta, yang penuh dengan musik dan tari, dimana tidak ada yang seperti yang terlihat dan perempuan adalah tokoh utamanya.
(Paul Smaczny & Maria Stodtmeier – 120 min - Venezuela)
THURSDAY, 22 Oct, 2:30 pm
‘El Sistema’ is a network of children’s and youth orchestras, music centres and workshops in Venezuela in which more than 250,000 children and young people are currently learning to play an instrument. It was set up over thirty years ago by José Antonio Abreu, who was driven by the utopian vision of a better future. The film shows how Abreu’s astonishing ideas have led the way out of the vicious circle of poverty - and how the power of music has been able to change the lives of hundreds of thousands of young people.

‘El Sistema’ adalah sebuah jaringan orkestra, music centre, dan workshop bagi anak-anak dan remaja di Venezuela, yang mana baru-baru ini lebih dari 250.000 anak-anak dan remaja berpartisipasi untuk belajar bermain instrumen. Didirikan lebih dari tiga puluh tahun yang lalu oleh José Antonio Abreu, yang didorong oleh visi utopia untuk masa depan yang lebih baik. Film ini memaparkan bagaimana ide brilian Abreu yang telah membuka jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang kejam – dan bagaimana kekuatan musik mampu mengubah kehidupan beratus ribu anak muda.

FAIS COMME CHEZ TOI (Make Yourself at Home)
(Gautier About – 20 min – French)
FRIDAY, 23 Oct, 2:30 pm (screening before feature film
Banlieue 13 - Ultimatum)
To end his solitude and make new friends, Benoit invites his new work colleagues to his house warming party. When the party ends and the last guests leave, he discovers two men and a woman talking, comfortably settled in the sofa, with seemingly no intention of leaving.
Untuk mengakhiri kesedihannya dan mencari teman baru, Benoit mengundang teman kerja barunya ke pesta yang diadakan dirumahnya. Ketika pestanya berakhir dan tamu terakhirnya pergi, ia menemukan dua pria dan seorang wanita berbicara dengan nyamannya di sofa, yang terlihat tidak berniat untuk pergi...
Coffee and Allah
(Sima Urale – 14min – New Zealand)
TUESDAY, 20 Oct, 7:30 pm (screening before feature film Mary and Max)
Coffee & Allah is a film about a young Muslim woman’s appetite for coffee, Islam and a good game of badminton. When Oromo Ethiopian Abeba Mohammed moves to suburban Mt Albert to unite with her sister under the refugee family reunion quota, she has nothing but her faith in Allah, a taste for Ethiopian coffee, and a zest for life to sustain her. From behind her purdah, and no knowledge of English, Abeba struggles to make a connection with the people of her new homeland. Nonu, a Samoan barrista at the local coffee shop takes a shine to her. But, the cultural chasm separating them seems unbridgeable until one afternoon, a spontaneous game of badminton with an unknown neighbour ultimately leads Abeba to accept Nonu’s gift of friendship.
Coffee & Allah adalah sebuah film tentang kegemaran seorang perempuan Muslim muda terhadap kopi, Islam dan badminton. Ketika seorang perempuan Ethiopia bernama Abeba Mohammed pindah ke daerah suburban Gunung Albert untuk tinggal bersama saudara perempuannya di tengah kumpulan keluarga pengungsi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain beegantung kepada Allah, cita rasa kopi Ethiopia, dan semangat hidup untuk menopang dirinya. Dari balik cadarnya, dan ketidakmampuannya akan berbahasa Inggris. Abeba berjuang untuk berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan barunya. Kemudian ia tertarik dengan seorang barista Samoan di coffee shop setempat bernama Nonu. Tapi perbedaan budaya yang memisahkan tampaknya tak bisa dipersatukan, sampai pada suatu sore, permainan badminton yang spontan dengan tetangga yang tak dikenal membuat Abeba menerima hadiah pertemanan dari Nonu.
(Ferdy Kuntoro – 21 min – Indonesia)
FRIDAY, 23 Oct, 7:00 pm (screening before feature film Drupadi)

A breakthrough drama-action film of animation and ‘live shot’ in Indonesia. The film portrays the life of Ivan who, unbeknownst to his wife, lives the life of an assassin. The struggle begins one morning when Ivan has a ‘job’ and his wife Vina ask him to buy some milk and pick up the laundry.


“Sebuah terobosan film pendek drama-action yang mengangkat tema baru, dengan kemasan ‘live shot’ dan animasi yang pertama di Indonesia”. Di tengah kehidupan keluarganya, Ivan ternyata menjalani profesi di dunia gelap, yakni sebagai pembunuh bayaran. Tugas berat ini dimulai ketika Ivan memulai aktivitasnya di pagi hari. Pada hari itu, Ivan mendapat tugas dari kliennya untuk membunuh beberapa orang. Di sisi lain Vina – sang istri – yang tidak mengetahui sama sekali jika Ivan adalah seorang pembunuh bayaran, menyuruh Ivan untuk membeli susu dan mengambil baju di binatu.
(Sun Koh – 14 min – Singapore)
FRIDAY, 23 Oct, 9:00 pm (screening before feature film Inglourious Basterds)
Boni, 19 year old, lives alone in the Marseilles flat he inherited from his mother, making a living working at a pizza parlor. To break from his humdrum routine, he mixes with weapons dealers and fantasies about a woman who runs the local bakery shop. One day Nénette, Boni’s 15 year old sister, appears out of the blue to announce she is pregnant. Boni has not seen his sister for years and is reluctant to let her move in but gradually relents developing an affection for his younger sister and her unborn baby, not realising that Nénette has no wish to keep the baby.

19 tahun Boni hidup sendiri di sebuah apartemen bernama The Marseilles yang merupakan warisan dari ibunya dan bekerja di warung pizza untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk melalui kegiatan rutinnya yang membosankan, dia bergabung dengan sindikat perdagangan senjata gelap atau berfantasi tentang wanita yang bekerja di toko roti. Suatu hari, adik Boni, Nénette, yang berumur 15 tahun muncul secara tiba-tiba dan mengatakan kalau dia hamil. Boni sudah bertahun-tahun tidak bertemu adiknya semenjak orang tua mereka berpisah. Dia merasa enggan untuk membiarkan adiknya pindah ke tempat dia. Secara perlahan-lahan, Boni merasakan pengaruh perasaan kasih sayang terhadap adiknya dan bayi adiknya yang belum lahir, tanpa menyadari bahwa Nénette tidak mempunyai keinginan untuk menyimpan bayi yang ada dalam kandungannya.  
(Carl Valiquet – 17 min – Indonesia)
WEDNESDAY, 21 Oct, 2:30 pm (screening before feature film Princess of Africa)
A beautifully composed film of still photography and video mix and flows from cock fighting to religious ceremonies creating a dance of men in trance who look like warriors preparing for a fight, to the blood flowing and the offerings prepared. The film is visually stimulating and thought provoking. 

Sebuah film yang indah dan disatukan secara apik. Still Photography dicampur dengan pergerakan dan ayunan dari adu ayam ke agama yang disajikan secara brilian. Adu ayamnya sendiri terlihat seperti tarian, dan orang yang kesurupan terlihat seperti sedang bersiap berangkat perang. Posisi Juxta dari ayam mati, aliran darah, sesajen dan upacara agama menstimulasi secara visual dan memprovokasi pikiran.
(Tan Wei Keong – 3 min 40 sec – Singapore)
WEDNESDAY, 21 Oct, 9:00 pm (screening before feature
film Oh My God)
A curious baby is protected from an environment of temptation. Overturning the popular association of animation with children’s entertainment, ‘Hush Baby’ depicts a baby’s struggle against confinement and restriction. The many expressive faces of a baby are brought to life with dark humour and wit as the film imaginatively explores a different facet of animation. It blurs the barrier between the creation and the act of creating. With the masterful strokes of coloured pencils, a 'baby' is born on paper. 

Seorang bayi  misterius yang dilindungi dari lingkungan yang penuh godaan. Berbanding terbalik dengan perkumpulan animasi popular dan hiburan anak-anak, Hush Baby menggambarkan tentang seorang bayi yang berjuang melawan kukungan dan keterbatasan. Ekspresi muka yang bermacam-macam dari seorang bayi dibawa dari kehidupan dengan humor gelap dan witty (kecerdasan yang lucu) seperti dalam film yang dibawa secara imajinatif mengeksplor dari segi animasi. Itu memburamkan batasan antara ciptaan dan menciptakan. Dengan garis dari pensil-pensil warna yang tertata dengan baik, seorang bayi telah lahir diatas secarik kertas.
(Tan Wei Keong – 2 min 10 sec – Singapore)
THURSDAY, 22 Oct, 7:00 pm (screening before feature film
Valentino: The Last Emperor)
A man, dissatisfied with a white cube for a head, decides to give it up immediately for a fanciful one in the name of self-improvement, only to find himself unwillingly dealing with the consequence. Using stop-motion animation, this short tale brings across the message that while change is easy, changing back is harder.

Seorang lelaki, merasa tidak puas dengan kotak putih sebagai kepalanya, dia memutuskan untuk menyerah kepada satu khayalan demi sebuah pengembangan diri, hanya untuk mengetahui bahwa dia tidak mampu menghadapi akibat dari keputusan itu. Dengan menggunakan animasi stop-motion, cerita pendek ini membawa pesan yang dapat diartikan secara merubah itu mudah, tetapi merubah kembali apa yang sudah diubah itu lebih susah.
(Victric Thng – 1 min 30 sec – Singapore) 
THURSDAY, 22 Oct, 7:00 pm (screening before feature film
Valentino: The Last Emperor)
‘Twogether’ is a simple film, but it is not simplistic. This very short film, in what can rightfully be considered a visual pun, playing on the very technique of film storytelling economics. One shot, one scene, and yet, a sequence and a twist – despite being so purposefully reduced - the whole message is told in this short.
Twogether merupakan film yang sederhana, tetapi tidak sesederhana itu (mengingat beberapa hal sangat mudah untuk diduga). Film ini sangatlah pendek, dapat dipertimbangkan sebagai sindiran visual, dimainkan berdasarkan teknik film bercerita secara ekonomis. Satu shot, satu scene, termasuk juga, sebuah sequence dan sebuah kejutan - walaupun banyak yang telah dikurangi secara sengaja, tetapi mereka mendapatkan semuanya dengan benar didalam film ekstrim pendek ini.

(Salman Aristo – 15 min – Indonesia)
FRIDAY, 23 Oct, 7:00 pm (screening before feature film Drupadi)

There are many new couples in Jakarta and all of them have one thing in common: alienated from each other. The couple in this story are faced with a situation when a burglar breaks into the house and they realize they have no telephone numbers for any of their neighbours and are unable to call for help. In fact, they don’t know them at all. This story is about urban life. Alienated urban lifestyle.

Ada banyak pasangan baru di Jakarta. Mereka semua mempunyai satu kesamaan yang sama: mengasingkan diri dari satu sama lain. Sama seperti pasangan di dalam cerita ini. Mereka harus menghadapi situasi saat pencuri masuk ke rumah mereka. Saat itu mereka menyadari bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai satupun nomor telepon tetangga mereka untuk diminta pertolongan. Dalam kenyataannya mereka sama sekali tidak mengenal tetangga mereka. Cerita ini mengenai kehidupan di kota. Gaya hidup menutup diri khas kota.

(Alison Teal Blehert Koehn – 6 min - USA)
WEDNESDAY, 21 Oct, 5:00 pm (screening before feature film Morning of the Earth)

Alison Teal Blehert-Koehn grew up travelling around the world with her parents. Now she makes short films about her global wanderings. Snaked: A Moroccan Adventure is about her search for the perfect break in a country that doesn’t traditionally surf.

Alison Teal Blehert-Koehn tumbuh dewasa dengan berkeliling dunia bersama dengan orang tuanya. Sekarang ini dia membuat film pendek mengenai perjalanan keliling dunianya. Snaked: A Moroccan Adventure menceritakan tentang bagaimana dia mencari ombak yang sempurna di sebuah negara yang bukan negara peselancar.

Galeria 21 Cineplex, Bypass I Gusti Ngurah Rai, Mall Bali Galleria, Kuta-Bali

Ticket Information: Red Carpet Opening Night Event 20 October featuring MARY and MAX and After Party at Planet Hollywood
Rp 150,000/person
  General Admission  (21–25 Oct) Rp 25,000/person
  Friends of the Festival Pass Rp150,000/person – Priority admission to all films 21-25 Oct
Ticket Outlets:
Seminyak  Biku - Jl. Petitenget 888, Kerobokan Tel. 8570 888, 8am –10:30pm, everyday
Ubud  Three Monkeys, Jl. Monkey Forest, Ubud Tel. 975 554, 7am – 11pm, everyday
Sanur  Natural Light Candle Co, 144 Ngurah Rai Padang Galak Tel. 288 072, 9am – 4pm Mon–Fri
Copyright © 2007 - 2009 BALINALE International Film Festival - All Rights Reserved